Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px

Kelakuan Media Yang Terus Mengorek Aib

Seller
Minggu, 27 Januari 2019


Seseorang ada yang punya masa kemudian yang suram. Kalau ia memang orang yang bertanggung jawab dan sudah menjalani hukuman, maka keburukan tersebut tak perlulah dikorek. Namun demikianlah masa kemudian semacam ini terus dikorek kemudian disebarkan. Aib terus dibongkar.

Ada larangan melaksanakan tajassus,

وَلَا تَجَسَّسُوا

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12). Yang dimaksud dengan ayat di atas perihal tajassus yakni jangan mencari-cari keburukan kaum muslimin dan aib-aib mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain.

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- yakni mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya yakni menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Pembuat isu media ketika ini berusaha menguping isu padahal orang yang disebar beritanya tak suka itu diketahui khalayak ramai atau mungkin hal itu sudah ia sesali dan pertanggungjawaban. Namun demikianlah kekurang pemikiran media, terus malu terus dibuka dan disebar. Padahal terdapat bahaya menyerupai disebutkan dalam hadits di bawah ini.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk yakni tembaga cair.

Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah.

Ibnu Batthol menyampaikan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menawarkan bahwa yang mendapat bahaya hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya.

Namun yang sempurna bila tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping isu tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini tidak boleh kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari.

Moga jadi nasehat bagi para pembuat isu media biar perlu hati-hati dalam menciptakan berita. Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekedar menguping info yang sesungguhnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi bila yang disebar yakni isu dusta.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Disusun di kantor Pesantren Darush Sholihin, 12 Sya’ban 1435 H di pagi penuh berkah
Akhukum fillah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho Sumber https://iberdakwah.blogspot.com/