Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px

Jangan Menjadi Korban Media

Seller
Senin, 03 Desember 2018


Hidup di masa kebebasan media, kolam hidup di hutan belantara. Harus serba waspada. Jika tidak, dapat menjadi mangsa berita. Orang menyebutnya masa keterbukaan, namun sejatinya ialah zaman penipuan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan insan di final zaman,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”

“Akan tiba kepada insan tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada ketika itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang udik (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Kedepankan Su’udzan kepada Wartawan

Jika kita perhatikan media yang berkembang di sekitar kita, sebagian besar wartawan yang menjadi kru media liberal, bergelimang dengan dosa dan maksiat. Anda dapat perhatikan, hampir semua stasiun televisi swasta tidak lepas dari yang namanya sex advertising.Presenter perempuan dengan busana pamer aurat. Mereka melaksanakan perbuatan maksiat secara terang-terangan. Standar penyampaian informasi dibentuk sebisa mungkin jauh dari islam. Nampaknya kondisi maksiat menjadi ’gawan bayi’ dalam dunia broadcasting yang berkembang di kawasan kita.

Dengan melihat kenyataan ini, kita dapat memastikan mereka ialah orang-orang fasik. Penyiar informasi dengan penampilan mengumbar aurat ialah orang fasik. Bahkan tanpa malu mereka melaksanakan kefasikannya di depan umum.

Allah menunjukkan bimbingan, semoga kita tidak gampang percaya dengan informasi dari model insan semacam ini. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, kalau tiba kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti semoga kau tidak menimpakan suatu petaka kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang mengakibatkan kau menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

Terlebih, hampir semua berita, terutama yang terkait konflik di kawasan kita, sangat sarat dengan tendensi ideologi dan opini. Karena itu, menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media massa ialah sebuah kesalahan besar, sehingga terjadilah menyerupai yang Allah firmankan, ’menyebabkan kau menyesal atas perbuatanmu itu’.

Waspada! Munafik yang Pandai Bicara

Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Keadaan yang paling saya takutkan menimpa umatku, setiap orang munafik yang pinter bicara. (HR. Ahmad 143 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Bad news is good news. Prinsip paling jahat yang menjadi pola dunia media. Terlepas apakah informasi itu mendidik ataukah tidak. Bagi media, itu tidak penting. Yang lebih penting, bagaiaman mereka dapat membumikan ideologi dan pemikirannya, melalui alat yang disebut informasi. Sejuta kata indah, dapat memoles dusta menjadi berita.

Jangan Menelan Berita Mentah-mentah

Kami tidak akan menunjukkan banyak komentar untuk potongan ini. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat tegas duduk kasus ini,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dianggap pendusta, ketika ia menceritakan semua informasi yang pernah ia dengar. (HR. Muslim dalam Muqadimah shahihnya dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 25167).

Pernyataan Imam Malik rahimahullah,

عن ابن وهب: قال لي مالك اعلم أنه ليس يسلم رجل حدث بكل ما سمع ولا يكون إماما أبدا وهو يحدث بكل ما سمع

Dari Ibnu Wahb: Imam Malik berkata kepadaku: Ketahuilah, gotong royong orang yang memberikan setiap informasi yang ia dengar itu tidak diterima. Seseorang tidak dapat jadi pemimpin selamanya, kalau ia suka memberikan setiap yang ia dengar. (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya), Allahu a’lam.

Baca juga: Pers Islam dan Fenomena "Watchdog"


Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah
Sumber https://iberdakwah.blogspot.com/